Senin, 15 April 2013

budidaya ikan bandeng

0 komentar






Ikan bandeng termasuk ikan yang paling populer di seluruh Indonesia, baik segar maupun sudah diolah duri lunak maupun pindang, orang dengan akrab mengonsumsinya. Bila dahulu hanya bisa dipelihara di tambak yang berair asin, kini bandeng sudah bisa dipelihara di kolam air tawar.




Taiwan adalah salah satu negara yang sudah mengembangkan bandeng di kolam air tawar karena jumlah kolam air tawar yang melimpah. Negara ini sebagai pelopor budi daya bandeng air tawar karena banyak yang belajar di Taiwan cara membudidayakan bandeng secara menguntungkan. Teknologi ini kini berkembang juga di Indonesia.


A. Pengenalan Jenis.
Bandeng dapat dipelihara di air tawar karena memiliki sifat euryhaline. Artinya, ikan mampu hidup di kisaran salinitas yang tinggi, meskipun untuk memijahkan induk dan larva masih membutuhkan air asin. Bahkan, di air yang salinitasnya o per mil, seperti banyak sawah Bonorowo di Jawa Timur yang airnya tawar, bandeng mampu hidup dan tumbuh besar.

Di waduk Saguling maupun Cirata, keramba apung sudah banyak diisi dengan bibit bandeng karena lebih menjanjikan daripada ikan mas yang boros pakannya dengan harga jual yang semakin merosot. Dengan demikian, tidak berlebihan bila bandeng dipelihara di kolam pekarangan. Rasa bandeng air tawar umumnya lebih lezat karena tidak mengandung rasa seperti Lumpur. Hal tersebut disebabkan karena air di kolam relatif lebih lancar sirkulasinya.
Bandeng yang dibudidayakan ada dua jenis yaitu bandeng hitam atau bandeng kepala besar dan bandeng rumput. Kedua strain ini terkenal merupakan strain yang cepat besar.

B. Kebiasaan Hidup di Alam

Bandeng dewasa umumnya memijah di laut dalam, kemudian nenernya terbawa ke pantai. Setelah ketika dewasa, bandeng hidup di air payau dan kembali ke laut untuk memijah.

1. Kebiasaan makan
Bandeng termasuk herbivore (pemakan tumbuh-tumbuhan). Ikan ini memakan klekap, yang tumbuh di pelataran kolam. Bila sudah terlepas dari permukaan tanah, kelekap ini sering disebut sebagai tahi air. Pakan bandeng terutama terdiri dari plankton (Chlorophyceae dan Diatomae), lumut dasar (Cyanophyceae), dan pucuk tanaman ganggang (Nanas dan Ruppia). Tumbuh-tumbuhan yang berbentuk benang dan yang lebih kasar lagi akan lebih mudah dimakan oleh ikan bandeng bila mulai membusuk.

2. Kebiasaan berkembang biak
Bandeng akan memijah di tengah laut yang salinitasnya tinggi. Nener (benih bandeng) bisa ditangkap di daerah pantai dengan menggunakan rumpon (fishing ground) berupa daun kelapa. Nener tersebut diambil dengan cara diseser.

C. Memilih Induk

Memilih induk secara ekonomis untuk dipijahkan memang hanya bisa dilakukan dari persediaan kolam pemeliharaan sendiri. Adapun ciri induk yang berkualitas di antaranya sebagai berikut.
Ciri induk yang berkualitas





Betina

Jantan


Induk bandeng hitam

Induk jantan bandeng hitam


Berumur 4 tahun dan perutnya membesar dan lembek.

Berumur 3 tahun dan tidak terlalu besar ukurannya agar tetap lincah gerakannya.


Induk bandeng rumput

Induk bandeng rumput


Berumur 5 tahun dan perutnya tebal

Berumur 4 tahun dan tidak terlalu besar ukurannya agar tetap lincah gerakannya.

D. Pemijahan di Kolam

Pemijahan bandeng biasanya dilakukan secara buatan, yaitu dengan penyuntikan hormon. Adapun yang harus diperhatikan adalah konstruksi kolam, persiapan kolam, dan proses pemijahannya.

1. Konstruksi kolam
Kolam induk harus memiliki kedalaman 1-1,5 meter dan terbuka agar dapat menerima sinar matahari langsung, tetapi sejuk. Pematang harus cukup kuat dan diusahakan tidak bocor agar ketinggian air kolam dapat dipertahankan.
Kolam masing-masing memiliki pintu pemasukan dan pembuangan untuk menjamin sirkulasi air dengan baik. Hal ini berpengaruh positif terhadap percepatan kematangan induk bandeng.

2. Persiapan kolam
Kolam perlu dikapur agar pH air kolamnya naik dan menjadi idealsekitar 6,8-7,2. Sebelum dipergunakan, kolam juga harus diberi saponin(biji teh) untuk membunuh ikan-ikan liar dan siput yang sering mengganggu pertumbuhan kelekap. Kolam perlu dipupuk dengan urea untuk merangsang pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan biasanya berkisar 10-15 g/m2.
Pakan tambahan untuk induk diberikan juga untuk merangsang per­kembangan gonade. Pakan berupa campuran tepung kacang, dedak hales (bekatul), terigu, atau bubuk telur yang diberikan 3-5% dari berat ikan. Pemberian pakan dilakukan setup hari, pada pagi, siang, dan sore hari.

3. Pemijahan
Kepadatan penebaran induk sebaiknya 4-5 ekor/m2 untuk membantu proses pematangan gonade. Pemijahan ikan bandeng secara kawin suntik. Namun, kawin suntik pada bandeng l00% mengandalkan hormon sintetik (buatan). Hormon yang biasanya digunakan di antaranya Synahorin, Gona Hormon, atau Puberogen.

Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali agar efektif, sedangkan untuk jantan cukup sekali saja yaitu pada penyuntikan induk betina yang kedua. Penyuntikan pertama biasanya dilakukan pada pukul 17-00-18-00 sebanyak 200 IU (International Unit) pada induk betina. Penyuntikan kedua dilakukan setelah 6 jam dari penyuntikan pertama yaitu pukul 24.00 sebanyak 200 IU juga pada induk betina, demikian juga untuk induk jantan disuntik 200 IU.

Penyuntikan dilakukan pada otot daging bagian punggung (intrumus­culler), sekitar baris kedua atau ketiga yang sejajar dengan bagian kelamin. Ada juga tempat penyuntikan yang lebih efektif, tetapi harus hati-hati karena bisa melukai organ dalam bandeng, yaitu ruang rongga perut .
Setelah disuntik, kedua induk dimasukkan kembali ke tempat penam­pungan induk masing-masing dengan diberi aerasi dan sirkulasi air yang teratur. Setelah itu, diperhatikan tanda saat pengurutan yang tepat yaitu induk akan tampak gelisah yang dicirikan dari membuka dan menutupnya mulut lebih cepat dan sering muncul ke permukaan kolam. Menjelang akan bertelur, ikan berhenti berenang dan seluruh badannya mengejang. Saat itulah waktu yang tepat melakukan pengurutan. Ikan kemudian ditangkap dan bagian kepalanya ditutup dengan kelambu agar tidak berontak.

Stripping (pengurutan) biasanya dilakukan setelah 10-14 jam darisuntikan pertama bila suhu air 20-230 C, 7-8 jam bila suhu air 25— 260 C, atau 3-4 jam pada suhu air 300 C. Caranya, induk betina dipegang dengan tangan kiri di bagian punggung, sedangkan tangan kanan di bagian perut. Sementara ibu jari tangan kanan mengurut berulang-ulang pada bagian perut ke arah lubang pelepasan. Telur kemudian ditampung di dalam baskom bersih yang diberi sedikit air. Dengan cara yang sama pengurutan dilakukan pada induk jantan. Setelah sperma keluar, telur dan sperma diaduk perlahan-lahan dengan bulu ayam selama 0,5 menit. Telur yang sudah tercampur cairan sperma kemudian dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan sisa cairan sperma, feses, dan darah.

E. Penetasan dan Perawatan Benih

Untuk keberhasilan penetasan telur-telur perlu dilakukan langkah-­langkah sebagai berikut.
a. Cuci bersih, lalu keringkan akuarium, hapa, bak penetasan, dan corong penetasan. Penetasan yang paling efektif dengan menggunakan corong penetasan karena memberikan jaminan pasokan oksigen yang terus-menerus dan mencegah penumpukan telur karena aliran air yang berputar terus menerus dari bawah corong penetasan.
b. Pasang tempat penetasan. Setiap, corong penetasan berdiameter 50 cm dapat dipergunakan untuk menetaskan 40.000-50.000 butir telur.
c. Tambahkan antijamur berupa Emolin atau Blitz Ich sebanyak 0,05 cc/liter air.
d. Telur bandeng akan menetas dalam waktu 28-36 jam pada suhu ruang 24-280 C. Prosentase penetasan biasanya mencapai 70-90%. Benih yang barn berumur 2 hari belum membutuhkan makanan tambahan karena masih mengandung kuning telur (yolk sack).
e. Setelah lewat dua hari, larva dipindahkan ke hapa yang dipasang di kolam pendederan yang telah dipersiapkan seminggu sebelumnya.

F. Pendederan

Pendederan dilakukan di hapa dan di kolam yang sudah dipupuk seminggu sebelumnya. Pupuk yang dimasukkan ke dalam kolam biasanya kotoran ayam sebanyak 0,5-1,5 kg/m2. Kolam juga diisi air agar tumbuh pakan alami yang dibutuhkan oleh burayak bandeng. Sementara pupuk buatan bisa diberikan TSP dengan dosis 10-15 g/m2 untuk melipat­gandakan produktivitas kolam.
Pemasukan air dilakukan secara bertahap. Pertama, air dimasukkan untuk menguraikan pupuk organik. Selanjutnya, air dinaikkan hingga 40-45 cm dan dibiarkan tergenang disinari matahari sampai 4-6 hari.

Benih tidak langsung ditebarkan di kolam, tetapi di dalam hapa berukuran panjang 4-5 meter, lebar 1-2 meter, dan dalam 1 meter dengan kepadatan penebaran benih antara 70-000-80.000 ekor/hapa. Pada bagian atas hapa diberi peneduh untuk mengurangi intensitas sinar matahari yang terlalu terik dan melindungi dari terpaan air hujan.
Pemberian pakan tambahan dilakukan setelah 3-4 hari setelah penebaran benih karena diperkirakan persediaan pakan alarm di dalam hapa cepat berkurang karena padatnya nener di dalamnya. Pakan tambahan yang diberikan berupa campuran kuning telur, juice kedelai, bubuk ragi, dan Anemia. Frekuensi pemberian 5-6 kali sehari.

setelah berumur 10 hari, benih bandeng (nener) sudah siap dipindah­kan ke kolam tanah yang lebih lugs. Kolam seluas 1.000 m2 bisa ditebari 70.000-80.000 ekor nener. Sebulan kemudian nener dipindahkan lagi ke kolam lain, yang luasnya sama, tetapi padat penebarannya cukup 35.000-40.000 ekor saja.

G. Pembesaran

Pembesaran bandeng dilakukan di kolam yang memiliki pintu pema­sukan dan pembuangan air tersendiri. Kolam boleh dipupuk terlebih dahulu atau tidak. Untuk memperoleh hasil yang optimal, pembesaran bandeng membutuhkan pemberian pakan tambahan. Pakan tambahan yang dibutuhkan berupa dedak halus (bekatul), tepung benawa, dan lain-lain.

Saran
Pembenihan bandeng membutuhkan kesiapan, baik teknis maupun ketersediaan induk. Oleh karena itu, disarankan untuk memilih dan melakukan salah satu rantai budidaya saja yang cocok dan sesuai dengan lahan yang tersedia serta mudah, yaitu pembesaran saja. Itupun cukup menghasilkan benih seukuran sejari, tidak perlu sampai ukuran konsumsi.

0 komentar:

Posting Komentar